
Para filsuf dunia sepanjang sejarah, mulai dari Sokrates di Barat hingga Lao Tze di Timur, sama-sama berambut gondrong, berkumis dan berjenggot tebal. Niscaya hal ini terjadi bukan karena mereka ingin tampil beda layaknya rocker atau malas mandi seperti preman. Para filsuf adalah orang-orang yang mencintai keindahan dan kedamaian, mereka menghabiskan hari-harinya mendengarkan burung-burung bernyanyi dan daun-daun berbisikan—dengan karakter seperti ini, mustahil mereka memanjangkan rambut karena malas cukuran atau mengejar popularitas.
Pangeran matahari dikelilingi oleh api yang menjalar-jalar hingga ratusan kilometer, sedang putri bulan nan ayu malu-malu memancarkan cahaya. Raja hutan bersurai lebat, kambing bandot berjenggot panjang, ayam jago berjambul dan berjengger. Hanya di dunia manusia, tanpa alasan jelas laki-laki memangkas habis mahkota kebanggaannya—bayangkan raja hutan tanpa surai lebatnya!?
Alam berbicara, dan filsuf mendengarkan. Biarkan rambut, kumis dan jenggot Anda tumbuh alami apa adanya. Tak perlu dicukur, atau sebaliknya diberikan obat subur: Ada yang memiliki gen kumis tipis, rambut botak di tengah, atau jenggot seperti rumput liar—semuanya menggambarkan karakter khas Anda. Jangan malu dengan identitas asli diri yang dianugerahkan alam secara spesial untuk Anda; Jangan sampai penampilan Anda sehari-hari menjadi bahan tertawaan alam semesta.
Bagi filsuf pertanyaannya bukan, kenapa Anda tidak cukuran? Melainkan justru, kenapa Anda bercukur?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar