
Seorang sufi mengaku telah mencari Tuhan ke berbagai pelosok dunia, namun tak kunjung ditemukan. Akhirnya ia pasrah berhenti mencari, kembali ke kampung halaman. Tak dinyana Tuhan malah muncul sendiri, ia mendapati Tuhan dalam dirinya sendiri. Ternyata Tuhan tak pernah pergi ke mana-mana, Tuhan ada di mana-mana. Seseorang hanya perlu membuka diri supaya cahaya Tuhan bisa masuk. Menurut Suhrawardi al Maqtul, cahaya Tuhan adalah cahaya yang paling terang—saking terangnya Ia tak perlu diterangkan lagi.
Dalam filsafat Zen, semakin keras murid mencari kebenaran maka akan semakin jauh ia dari kebenaran: Katakanlah dalam keadaan normal seorang murid bisa menguasai Zen dalam jangka waktu kurang dari lima tahun, jika murid belajar keras maka 10 tahun, jika murid belajar lebih keras lagi siang dan malam maka bertambah pula jangka waktunya menjadi 15 tahun. Menurut guru Zen, paradoks ini terjadi karena satu mata sudah digunakan murid untuk mencari kebenaran sehingga hanya tersisa satu mata lagi untuk menerima kebenaran.
Tuhan ada di mana-mana, Anda hanya perlu membuka mata; alam sedang berbicara, Anda cukup mendengarkan. Yang membedakan filsuf dengan manusia kebanyakan adalah, filsuf melihat dengan lebih dalam dan mendengar dengan lebih peka. Acapkali bacaan-bacaan ilmiah, dogma-dogma agama, dan opini-opini populer malah menjadi noda hitam di hati dan pikiran yang menghalangi cahaya untuk masuk. Kosongkan gelas Anda, agar dapat menampung sebanyak mungkin air (Zen).
0 komentar:
Poskan Komentar