Menghadapi Permasalahan Bukan Malah Menghindarinya


Sebagai umat beragama, kita mempercayai adanya individu-individu spesial dalam sejarah. Para nabi, imam maksum, ratu adil, orang-orang pilihan yang diberkati Tuhan. Sebaliknya tidak ada seorang pun yang lahir sebagai filsuf. Darah filsuf dalam diri kita bergejolak, seiring pergulatan dalam hidup. Kebenaran agama bersifat mutlak, sedang kebenaran filsafat bersifat paradoks. Agama meyakini hitam sebagai hitam dan putih sebagai putih; sedang filsafat mengagumi warna-warni kehidupan. Di sinilah letak romantika hubungan agama dan filsafat. Keduanya bagai sahabat lama, lahir dari akar yang sama, besar di lingkungan berbeda.

Agama dan filsafat sama-sama lahir dari abnormalitas. Dalam kondisi normal, manusia tidak membutuhkan keduanya. Siapa butuh surga, jika segala yang kita inginkan bisa didapati dalam hidup? Untuk apa mempertanyakan arti segala sesuatu, jika segala sesuatunya terjadi sesuai keinginan kita? Penindasan, pengkhianatan, ketidakadilan dan kematian menjadi pemicu berkembangnya agama dan filsafat.

Agama ibarat candu, tempat pelarian manusia-manusia yang dirudung masalah. Sekali seseorang merasakan manisnya iman, mereka akan kembali dan kembali lagi. Filsafat menyediakan jawaban. Kadang pahit kadang manis. Filsafat bangkit dari premis sederhana, permasalahan harus dihadapi bukan dihindari! Manusia tidak boleh lari dari permasalahan—Sokrates memilih mati menenggak racun demi prinsip yang diyakininya, daripada lari dari negeri sendiri..

Agama memaksa kita untuk menerima kenyataan. Lanjutkan hidup Anda, tak guna menyesali masa lalu, tidak ada seorang pun memiliki kekuasaan atas kematian. Filsafat mengajarkan kita untuk mempertanyakan arti kematian. Jawaban tersebut bisa jadi bumerang yang menyesatkan, atau malah mencerahkan Anda.

0 komentar:

Poskan Komentar