
Berbeda dengan pendapat mayoritas antropolog yang menyatakan bahwa prototipe agama adalah politeisme, sebagai umat beriman kita justru meyakini Adam—sang manusia pertama—sebagai penganut paham monoteisme. Dalam monoteisme murni seperti ini, tidak ada kuil dan kultus dalam bentuk apapun; Tuhan terlalu tinggi untuk bisa dijangkau manusia. Seiring berjalannya waktu, Tuhan langit dirasakan terlalu jauh sehingga hilang dengan sendirinya; manusia berinisiatif menggantikan Tuhan langit dengan Tuhan-tuhan pagan yang lebih rendah dan membumi (Karen Armstrong). Muhammad dan ratusan nabi lain sebelumnya, diutus Tuhan menyerukan umat manusia supaya kembali pada monoteisme, maka Tuhan pagan pun dibunuh dan dihancurkan.
Para filsuf paling enggan berdebat dengan pemuka agama, karena sedikit-sedikit mereka mengatas-namakan Tuhan. Tuhan tidak bisa bicara sendiri, karena itu pemuka agama merasa perlu mengangkat diri sendiri sebagai juru bicara Tuhan. Filsuf menolak pandangan ini, Tuhan bicara dalam keheningan, manusia hanya perlu memahami bahasa-Nya dengan akal pikiran. Ayat-ayat Tuhan bukan hanya terdapat di kitab suci, tapi tersebar di alam semesta dan dalam diri manusia sendiri. Percuma bicara dengan pemuka agama, karena Tuhannya saja sudah beda: Tuhan mereka pasif, sedang Tuhan filsuf aktif berbicara. Dialog hanya mungkin terjadi bila salah-satu Tuhan dibunuh terlebih dahulu.
Friedrick Nietzsche suatu hari berlari menuju pasar, lalu di tengah-tengah kerumunan ia berteriak lantang, "Tuhan telah mati!" Filsuf perlu membunuh Tuhan, supaya sadar bahwa Tuhan tidak bisa dibunuh; Tuhan tidak bisa dibunuh, karena Tuhan tidak ada; Tuhan lebih dari ada, Tuhan Maha Ada.
0 komentar:
Poskan Komentar