Konsisten dalam Keimanan Walau Dilanda Badai Kegalauan


Secara psikologis ketika seseorang dipaksa melakukan satu kegiatan rutin berulang-ulang setiap hari, maka ia akan tiba pada satu titik mempertanyakan arti rutinitas tersebut. Akal menuntut jawaban, jika diabaikan maka rutinitas tersebut kehilangan arti; Manusia menjadi tidak lebih dari sebuah mesin.
Anak pesantren yang terbiasa mandi jam empat pagi selama "karantina", mengalami shock saat harus hidup di kost-kostan universitas. Berbeda dengan pesantren, anak-anak kost terbiasa begadang semalam suntuk dan mandi sesaat sebelum masuk kelas. Lulusan pesantren mulai mempertanyakan arti rutinitasnya, masih relevankah kebiasaan mandi jam empat pagi!? Bukankah antrian kamar mandi sekarang tidak sepanjang dulu!? Bukankah mandi jam empat pagi tidak baik untuk kesehatan!? Anak pesantren yang bijak akan mengubah kebiasaan mandi jam empat pagi tanpa terpengaruh kebiasaan mandi sekali sehari.

Sekarang, pernahkah Anda bertanya pada diri, apa arti ibadah rutin yang Anda lakukan selama ini? Apakah Anda benar-benar beribadah karena Tuhan, ataukah hanya sekadar rutinitas sehari-hari seperti buang air besar? Apa maksud beribadah karena Tuhan? Bukankah Tuhan Maha Besar, dan karenanya tidak membutuhkan ibadah Anda? Benarkah Anda membutuhkan ibadah, atau jangan-jangan itu hanya ilusi yang muncul karena kebodohan Anda? Darimana Anda tahu metode ibadah Anda yang benar, dan agama lain salah? Bukankah masalah keimanan mustahil diverifikasi? Bagaimana mungkin hanya satu agama yang benar, lainnya salah? Bukankah semua agama mengajarkan kepada kebaikan? Jika semua agama mengajarkan kebaikan, lalu mengapa kenyataannya acapkali menjadi biang-kerok berbagai pertengkaran? Kalau sudah begini, bukankah dunia justru akan menjadi tempat yang lebih baik tanpa kehadiran agama!?

Apapun jawaban yang Anda hasilkan sebagai filsuf, konstruktif maupun deskruktif, tekankan pada diri sendiri satu hal: Jangan korbankan iman Anda hanya karena keragu-raguan! Sah-sah saja berganti keyakinan, namun hanya setelah Anda yakin akan kebenaran keyakinan yang baru.
Bayangkan pemain bola yang hendak mengeksekusi penalti. Selama latihan posisi favoritnya adalah bagian kanan atas gawang lawan. Namun sesaat sebelum eksekusi dirinya dilanda kegalauan, sepintas ia melihat penjaga gawang lawan sudah bisa menebak kebiasaan penaltinya. Otak memerintahkan bola tetap ditendang ke kanan atas sekeras mungkin, sedangkan insting sebagai pemain depan berpengalaman menyarankan bola ditendang ke kiri bawah dengan sedikit tipuan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing, tapi satu hal yang pasti yakni: Jika eksekusi tersebut dilakukan dalam keragu-raguan besar kemungkinan bola malahan akan melenceng jauh dari sasaran. Sang maestro Roberto Baggio dalam final Piala dunia 1994 dan David Beckham di Piala Dunia 2006, gagal mengeksekusi penalti hanya karena ragu-ragu.

Iman adalah pertaruhan. Membuktikan keberadaan Tuhan sama mustahilnya dengan membuktikan ketidakberadaan Tuhan. Memilih beriman konsekuensi kecil dengan keuntungan tidak terbatas; Memilih ingkar keuntungan kecil dan konsekuensi neraka jahannam. Sekeping uang logam ditoss, sisi mana yang akan muncul? (Blaise Pascal)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar