Memikirkan Hal-hal Yang Tak Terpikirkan Sebelumnya


Untuk menjadi filsuf tidak cukup sekadar banyak membaca dan rajin mengikuti seminar. Dengan cara ini paling banter Anda hanya akan meraih predikat profesor universitas ternama peraih hadiah nobel. Profesor menghimpun pikiran orang, sedang filsuf memikirkan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya.

Sebagai filsuf Anda wajib menyediakan waktu khusus setiap harinya untuk merenung, cari inspirasi. Merenung berbeda dengan berkhayal: Khayalan berangkat dari angan-angan kosong, sedang renungan berpijak pada realitas. Tak perlu merenungkan hal-hal pelik dan terlampau jauh, seperti persediaan minyak dunia yang semakin menipis atau kemungkinan adanya kehidupan di galaksi lain. Cukup renungkan hal-hal sederhana di sekeliling Anda, tentang kucing yang mencuri ikan di meja makan dan pengemis yang meminta-minta di ujung jalan.

Filsuf ibarat entrepreneur dunia intelektual. Sebagai entrepreneur Anda mungkin tidak menghasilkan uang sebanyak manajer perusahaan besar, atau kehidupan seglamour eksekutif muda. Menjadi entrepreneur berarti menjadi bos perusahaan sendiri; Filsuf mungkin tidak memiliki kosakata secanggih profesor, tapi mereka adalah tuan rumah bagi pikiran sendiri. Filsuf memikirkan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya, sebagaimana entrepreneur menjajaki berbagai kemungkinan yang ada.

0 komentar:

Poskan Komentar