Pikiran Sebagai Pimpinan


Akal, hati dan fisik sama-sama memiliki mata: Mata fisik melihat materi, mata hati melihat rasa, sedang mata akal melihat pikiran. Mata fisik dan mata hati melihat objek di luar diri, dunia luar. Sifat pengetahuannya langsung; Sedang mata pikiran melihat ke dalam diri, dunia pikiran. Sifat pengetahuan tidak langsung. Terdapat jurang pemisah antara dunia luar dan dunia pikiran.
Mata fisik melihat pohon dengan jelas karena itu ia tidak lagi butuh penjelasan, sedang mata hati yang tertusuk panah asmara tak memerlukan alasan; Sebaliknya mata akal melihat dalam kegelapan, meraba-raba realitas, mencari-cari cahaya kebenaran. Karena itu akal butuh deskripsi pohon dan rasionalisasi cinta. Ketika akal-pikiran menjadi pimpinan atas hati dan fisik, maka pohon menjadi lebih dari sekadar onggokan kayu dan cinta mesti beralasan.

Filsuf menjadikan akal sebagai pemimpin bagi diri. Segala sesuatu mesti dengan pertimbangan akal-sehat. Akal berbeda dengan otak! Binatang dan komputer juga punya logika, tapi hanya manusia yang bermimpi. Kucing mustahil terbang seperti burung, namun manusia lewat mimpinya bisa terbang lebih tinggi dari burung—Plato memimpikan berdirinya negara ideal, dengan filsuf sebagai pemimpinnya. Ciri-ciri pemimpin-filsuf adalah, ia menolak menjadi pemimpin!?—Manusia juga memiliki kapabilitas mewujudkan mimpinya. Potensi akal-pikiran yang dimiliki manusia menjadikan kita anak emas Sang Pencipta.

Rene Descartes sampai pada satu kesimpulan, "Aku berpikir, maka aku ada." Selama hidup Anda masih dikendalikan oleh nafsu dan emosi, maka Anda belum jadi manusia seutuhnya. Pikiran membentuk tindakan, akumulasi tindakan menjadi karakter, dan karakter menentukan takdir Anda (Budha).

0 komentar:

Poskan Komentar