Tidak Ikut Terbalik Bersama Dunia Yang Terbalik


Dua sahabat berpisah saat memasuki gerbang kuliah. Tali ikatan persahabatan yang dibalut selama bertahun-tahun tak cukup kuat menahan beban panggilan masa depan. Sahabat pertama mengambil langkah pintar dengan mentaati perintah orang tua, menuntut ilmu hingga ke negeri seberang, membekali diri dengan tuntutan dunia kerja; Sahabat kedua nekad mengikuti suara hati, membongkar kedok kepalsuan dunia, menjadi Plato untuk abad baru. Kelak sahabat pertama akan memiliki segala yang bisa diimpikan seorang laki-laki, istri model, perusahaan sendiri, dan motor Harley; Sedang sahabat kedua menelan pil pahit kehidupan, bekerja serabut asal dapur mengepul, ditempeleng kenyataan dunia tak butuh Plato.

Menurut Plato, sejak lahir manusia sudah dipaksa melihat bayang-bayang di dinding gua. Di belakang mereka ada api berkobar-kobar, dan para budak berbaris memikul barang. Manusia-manusia gua menganggap bayang-bayang sebagai realitas. Seorang filsuf harus mampu melepas belenggu diri, lalu keluar dari gua, menyaksikan matahari berseri dan angin menyapa. Sahabat kedua kurang beruntung karena keluar di malam hari, ia menemukan dirinya berada dalam kegelapan mencekam dan guntur bersahutan.

Dunia sudah terbalik. Kita tahu kualitas lebih penting dari kuantitas, namun di sisi lain kita memuja-muja demokrasi; Kita sadar uang hanya sarana, namun ironisnya lima hari dalam seminggu justru kita gunakan untuk mencari uang. Dunia bukan cuma gila tapi benar-benar gila, sampai-sampai ia mengira orang waras yang gila. Seorang filsuf tidak boleh ikut terbalik bersama dunia yang terbalik, lebih baik dicap gila oleh orang gila daripada jadi gila betulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar