Melihat Keindahan Dalam Keburukan


Film Disney mendoktrin anak-anak bahwa nenek sihir itu buruk rupa dan busuk hati, sedangkan tuan putri berparas cantik dan mulia jiwanya. Film biru menyadarkan anak-anak, ternyata nenek sihir memiliki lekuk tubuh layaknya gitar Spanyol dan rintihan seindah dentingan piano.
Sedari kecil orang-orang tua telah menakut-nakuti kita dengan cerita-cerita seram seperti kuntilanak dan genderuwo. Konon katanya kuntilanak hanya keluar di malam hari, melompat dari satu pohon ke pohon lain, mencari ibu-ibu hamil untuk dimakan janinnya. Saat dewasa kita sadar, ternyata setan-iblis tidak pernah malu-malu menampakkan wajah, di televisi dan koran-koran. Atas nama modernitas, mereka bukan saja menggerogoti tubuh kita tapi juga masa depan anak-cucu.

Filsuf hidup dalam dunia simbol, bicara dalam bahasa simbol. Sebagai filsuf Anda tidak boleh meremehkan hal-hal yang nampaknya remeh. Anda harus mampu melihat esensi di balik eksistensi, hakikat dalam setiap penampakkan. Kebenaran paling tinggi justru kebenaran yang paling sederhana. Isaac Newton menemukan hukum gravitasi ketika sebuah apel jatuh dari pohon menimpa kepalanya; Albert Einstein menjelaskan kompleksitas hukum relativitas, ibarat audiens sedang melakukan perjalanan sehari-hari dengan kereta api.

Seorang filsuf harus mampu melihat keindahan dalam mahluk paling buruk, dan keburukan dalam kesempurnaan sekali pun. Suatu hari Tuhan menantang Musa untuk mencari keburukan di muka bumi. Musa berkeliling dunia, namun gagal menemukan mahluk buruk—bahkan dalam diri pelacur tua dan cacat sekali pun, masih terdapat secercah keindahan. Tuhan bersabda, "Sesungguhnya tidak lah kuciptakan segala sesuatu dalam kesia-siaan."

0 komentar:

Poskan Komentar