Percaya Diri dengan Inferioritas Diri


Seorang siswa mengaku jatuh cinta; kasmaran pada boneka manekin cantik dari Jepang. Rutinitas sekolah sehari-hari yang membosankan, mendadak jadi penuh warna; malam-malam sunyi senyap, berubah jadi pesta pora. Semua terjadi hanya dengan membayangkan kehadiran sang dewi. Namun malang, ia tak pernah memiliki cukup keberanian menyatakan cinta. Tidak pantas! Baginya seorang putri hanya pantas disunting oleh pangeran. Jangan sampai darah biru tuan putri ternodai oleh manusia pinggiran.

Kisah cinta di atas sungguh ironis karena banyak alasan. Seorang pemuda semestinya berani mengungkapkan isi hati. Cerita cinta sekolah hanya terjadi sekali seumur hidup. Bukan masalah apabila cinta ditolak, setidaknya kita tak perlu menanggung beban seumur hidup bertanya-tanya apa gerangan yang mungkin terjadi?
Siswa dalam ilustrasi di atas melakukan kesalahan fatal karena membandingkan diri sendiri dengan wanita tambatan hati—ia ibarat mencoba membandingkan apel dan jeruk, mana yang lebih enak? Setiap individu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, mustahil membandingkan satu sama lain. Kalaupun Anda ingin membandingkan seseorang dan kemudian memberikan penilaian, bandingkan keadaaannya kini dengan keadaaannya di masa lalu, lebih baik atau lebih buruk? Sudah berapa dalam potensi diri yang digalinya?

Seorang filsuf mesti memiliki kepercayaan diri yang tinggi, keberanian untuk menyatakan isi hati dan mengungkapkan kebenaran. Bukan karena ia merasa lebih superior dibanding orang awam, tapi justru karena ia tahu inferioritas diri. Barangsiapa yang telah mengenal dirinya, takkan dibuat bingung oleh orang lain; Mereka yang nyaman dengan kekurangan diri sendiri, tak bisa dibuat tertekan oleh orang lain. Sokrates menjadi orang paling bijak di Yunani bukan karena ia tahu segalanya, melainkan karena ia orang yang paling tahu bahwa ia tidak tahu apa-apa.

0 komentar:

Poskan Komentar