Seni Menikmati Hidup


Dulu, di era tahun 1970-80-an, perjalanan panjang via darat Jawa-Sumatera merupakan pengalaman yang menyenangkan: Udara segar, jalan lancar, pemandangan spektakuler, dan orang-orang tersenyum. Di atas kapal terdapat juru foto yang siap mengabadikan gambar kita sekeluarga.
Lain dulu lain pula sekarang, saat ini waktu adalah segalanya. Semakin cepat sampai tujuan semakin bagus. Jalan tol dibangun, mobil berkecepatan tinggi, dan jadwal pelayaran padat. Di atas kapal kita terduduk lesu, menunggu selama tiga jam dalam ruangan ber AC sambil nonton TV yang gambarnya buram.
Orang-orang tempo dulu, dengan kesederhanaannya, ternyata lebih tahu cara menikmati hidup daripada kita.

Seni menikmati hidup jauh lebih penting daripada teknik mencari uang. Dengan uang seseorang memang bisa membeli berbagai makanan enak, tapi apa lacur bila kadar kolesterol kita tinggi? Makanan paling enak adalah makanan yang dimakan saat lapar dan sudah keburu habis sebelum kita kenyang. Sungguh menyedihkan melihat gaya hidup orang-orang kota yang terjebak dalam lingkaran setan kehidupan: Semakin besar uang yang mereka peroleh, justru semakin besar pula pengeluaran mereka karena tuntutan gaya hidup. Kekayaan tiba-tiba menjadi barometer kebahagiaan.

Seorang filsuf dituntut mampu menikmati hidup sebagaimana adanya, merasa bahagia bersama kebahagiaan itu sendiri. Rahasia hidup bahagia adalah "hidup" saat ini. Jika Anda pengangguran, mainlah gitar di siang hari sebarkan keceriaan di mana-mana. Daripada jadi pengangguran yang stres lebih baik jadi pengangguran yang bahagia; Jika Anda pejuang yang harus banting-tulang demi keluarga di kampung, maka bekerjalah sambil bernyanyi. Korporasi-korporasi serakah boleh saja memeras habis keringat, tapi tidak jiwa Anda.

0 komentar:

Poskan Komentar